Design Rumah Sehat
Monday, February 15, 2010Labels: Artikel
Gaya Hidup Sehat yang Dibutuhkan Rakyat
Sunday, February 14, 2010
Program kesehatan seharusnya tidak saja indah di atas kertas tapi juga harus dilaksanakan. Terutama mengarahkan program agar masyarakat tetap sehat sehingga tak perlu dana pengobatan gratis.
Ahli penyakit dalam Dr Ari Fahrial Syam, mengungkapkan anggaran kesehatan jangan melulu untuk proyek-proyek pengobatan gratis tetapi juga membuat program-program bagaimana masyarakat tetap sehat dan tidak sakit.
“Konsep pengobatan gratis yang menjadi trend dan ujung tombak kabinet sebelumnya dan hal ini juga diikuti para penguasa di daerah, seharusnya bisa digeser ke program hidup sehat tanpa sakit sehingga tidak perlu sering berobat walau pembiayaannya murah atau gratis,” papar dokter di Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM itu
Ia melihat, upaya-upaya bersifat reaktif seharusnya sudah ditinggalkan. Konsep pembangunan kesehatan adalah ‘Masyarakat Hidup Sehat Tanpa Sakit’. Ia mengingatkan agar Puskesmas diberdayakan bukan saja sebagai pusat pelayanan kesehatan pertama tetapi juga ujung tombak pemberdayaan masyarakat untuk dapat hidup mandiri di bidang kesehatan.
Yang terjadi saat ini adalah, pemerintah pusat merasa bahwa masalah Puskesmas sebagai ujung tombak pembangunan kesehatan rakyat adalah masalah daerah di sisi lain masyarakat juga berharap pusat dapat melaksanakan programnya langsung ke daerah.
Ia mengakui, pada kondisi yang serba terbatas dan dukungan pemerintah yang kurang optimal akhirnya masyarakat harus mampu untuk mempersiapkan dirinya sendiri. Hidup bersih dan selalu mengkonsumsi buah serta sayur-sayuran serta melakukan olah raga teratur dan istirahat yang cukup merupakan gaya hidup yang harus selalu dipertahankan.
Berhenti merokok, tidak mencoba Narkoba dan tidak minum-minuman beralkohol serta hanya berhubungan seks dengan suami atau istri yang sah juga seharusnya menjadi trend kehidupan di tengah-tengah masyarakat. Pemerintah tentu harus mendukung dengan program-programnya agar masyarakat bisa hidup lebih sehat.
Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam (PAPDI) itu juga memaparkan, permasalahan kesehatan yang muncul sepanjang 2009 bisa menjadi antisipasi untuk tahun depan. Seperti masalah yang didominasi kasus infeksi, penyakit degeneratif dan kasus-kasus akibat bencana alam.
Antisipasi berbagai bencana harus dilakukan mengingat tahun depan pun bangsa ini tidak bisa terhindar dari berbagai bencana alam. Tim bantuan untuk menanggulangi bencana baik dari unsur pemerintah dan masyarakat termasuk institusi pendidikan harus selalu siap dan tetap dalam koordinasi pemerintah.
“Target-target pembangunan kesehatan harus jelas untuk memperlambat perkembangan penyakit baik penyakit infeksi dan non infeksi termasuk penyakit degeneratif dan termasuk penyakit akibat gangguan jiwa karena faktor stress,” paparnya.
Penyakit infeksi yang cukup membuat trenyuh adalah peningkatan kasus filariasis di beberapa tempat di Indonesia khususnya di Jawa Barat. Peningkatan kasus ini menunjukkan bahwa pemerintah telah gagal mengatasi penyakit ini yang seharusnya angka kejadiannya sudah bisa ditekan sampai di bawah 1%.
Namun pada kenyataannya saat ini masih di atas 10%. Saat ini Indonesia masih menjadi negara terbesar penyumbang kasus filiariasi dunia selain India, Nigeria dan Bangladesh.
Penyakit infeksi lain yang juga mendominasi adalah kasus rabies khususnya di beberapa daerah yang memang jumlah anjingnya relatif lebih banyak seperti di Pulau Bali.
Indonesia juga terkena dampak global yang mengalami pandemik infeksi swine flu (Influensa tipe A H1N1) walau pada akhirnya kasus yang semula sempat dikhawatirkan menjangkiti jamaah haji tidak terjadi seperti prediksi semula.
Belum lagi laporan selalu adanya kasus demam berdarah dan malaria yang terjadi sepanjang tahun. Demam berdarah dengue (DHF) masih menjadi endemis dan kasusnya selalu ditemukan sepanjang tahun terutama di kota-kota besar.
Lalu bagaimana dengan penanganan kasus TBC dan HIV/AIDS. Hinggga saat ini penanganan penyakit ini masih belum optimal mengingat kasus yang ditemukan di tengah masyarakat makin hari makin banyak. Penyakit HIV AIDS juga mengalami pertumbuhan yang pesat dibandingkan negara tetangga.
“Kita juga dikagetkan dengan meninggalnya beberapa selebritis dan tokoh nasional yang meninggal mendadak dan berhubungan dengan serangan jantung. Hal ini jelas berhubungan dengan gaya hidup dari masyarakat kita yang berubah sehingga penyakit degeneratif lebih banyak ditemukan pada usia lebih muda,” paparnya.
Peningkatan penyakit degeneratif ini berhubungan dengan gaya hidup masyarakat perkotaan yang cenderung mengkonsumsi makanan tinggi lemak dan kurang melakukan aktifitas olah raga.
Baca Selengkapnya...
Labels: News
Mewaspadai Penyakit yang Timbul Dimusim Hujan dan Akibat Banjir
SELAIN demam berdarah (DB) yang saat ini sedang merebak, masyarakat diminta mewaspadai beberapa jenis penyakit yang kerap muncul di waktu musim hujan dan banjir. Curah hujan yang meningkat membuat sejumlah daerah bagai kolam raksasa. Pemukiman penduduk tergenangi air, bahkan terendam. Kendati banjir adalah 'tamu' tak diundang, namun selalu datang setiap tahunnya. Persoalan yang muncul saat banjir bukan hanya genangan air, rumah terendam, atau orang meninggal akibat hanyut, tetapi munculnya berbagai penyakit.
Diare, leptospirosis, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan penyakit kulit datang saat banjir dan pascabanjir. Karena itu, penyakit-penyakit harus diwaspadai, selain DB yang saat ini sedang merebak dan menelan korban jiwa ratusan orang, penyakit tersebut harus segera diantisipasi masyarakat. Tetapi, masyarakat tidak perlu terlalu khawatir, jika upaya antisipasinya dilakukan dengan baik. Jurus antisipasi pun tidak sulit dilakukan. Caranya, dengan memerhatikan sanitasi Lingkungan dan masalah higienis. Setelah memerhatikan lingkungan sekitarnya, lalu tanamkan pola hidup sehat. Biasakan mengonsumsi air yang bersih dan sudah dimasak. Cuci tangan sebelum makan dan menghindari daerah yang sangat lembab. Kalau bisa mengungsi ke daerah yang lebih aman dan sehat. Tujuannya untuk menghindari risiko terkena penyakit lebih parah.
Untuk menangkal serangan penyakit di musim hujan dan banjir, masyarakat disarankan membentengi tubuh dengan meningkatkan daya tahan tubuh. Meningkatkan daya tahan tubuh dapat dengan cara mengonsumsi makanan seimbang. Makanan yang dapat meningkatkan daya tahan adalah protein dan buah-buahan. Protein dikenal dapat meningkatkan ketahanan tubuh. Sementara buah-buahan yang mengandung berbagai vitamin dikenal sebagai sumber
zat yang meningkatkan daya tahan tubuh.
Selain itu, banjir juga membawa dampak psikologis. Tidak sedikit warga yang harta bendanya hancur akibat banjir mengalami stres, gelisah, dan anxiety.
Tidak menutup kemungkinan akibat stres, daya tahan tubuh pun menurun. Kalau sudah stres akan mudah penyakit menyerang,
Kualitas air
Faktor lingkungan sangat menentukan berkembangbiaknya bakteri-bakteri penyebab diare.
Kualitas air sangat tergantung pada kondisi daerahnya. Sebetulnya hujan baik bagi air itu sendiri. Karena air yang ada di tanah akan diangkat ke permukaan. Biasanya air tanah ini sudah jernih karena unsur organiknya rendah. Sebetulnya proses turunnya hujan membuat air tanah melakukan filterisasi secara alamiah sehingga ketika terangkat ke permukaan, airnya justru lebih bersih. Tetapi karena masalah lingkungan buruk, air yang bersih ini tercampur dengan air yang tercemar. Air yang tercemar banyak mengandung unsur organik, seperti bakteri E-Coli yang menyebabkan diare, tifus, dan desentri.
Jadi, problem sekarang ini munculnya diare dan penyakit menular lainnya akibat banjir dikarenakan sanitasi yang buruk.Air tanah dangkal sekitar 0-40 meter dari permukaan sangat rentan terhadap pencemaran. Air yang dangkal ini mudah tercemar dari luar,
seperti industri, pom bensin atau bahan kimia lainnya. Apalagi di masyarakat masih banyak dijumpai adanya sumur terbuka, sehingga sangat memungkinkan kotoran atau limbah masuk. Di pemukiman padat, terutama di tepi bantaran sungai, seperti di tepi Sungai Ciliwung, sanitasi yang dibangun cukup buruk. Belum lagi masyarakat memiliki
budaya membuang sampah sembarangan di sungai.
Baca Selengkapnya...
Labels: Artikel
Perawatan Kulit wajah
Saturday, February 13, 2010
Kulit wajah manusia, baik wanita ataupun pria sangatlah sensitif Sehingga kita perlu sekali menjaganya. Untuk menjaga kulit sangat diperlukan pengetahuan kita agar tidak terjadi kesalahan sehingga menimbulkan masalah untuk kulit itu sendiri
Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan untuk menjaga kulit wajah. beberapahal tersebut dapat kita lihat dari tips-tips dibawah ini
1. Cuci tangan yang bersih sebelum menyentuh wajah Anda
2. Lakukan cleansing kulit wajah pada pagi dan malam hari: Perlu dilakukan di malam hari – meski Anda tidak ber-makeup, karena wajah mudah dinodai oleh polusi. Perlu pula dilakukan pada pagi hari, karena kulit Anda mengeluarkan lemak dan kotoran pada malam hari
3. Di malam hari, luangkan waktu untuk memijat kulit untuk menstimulasi sirkulasi pertukaran sel-sel pada kulit. Pijatan lembut selama dua menit bisa menghilangkan keletihan, menyantaikan wajah dan memberi kecerahan kulit.
4. Lindungi kulit secara benar, apalagi bila Anda sering bepergian.
5. Banyaklah minum air putih.
Perawatan Untuk kulit kering:
1. Berilah kesenangan setiap saat.
2. Ubah jenis produk perawatan kulit sesuai musim, iklim, dan gaya hidup Anda: lingkungan ber-AC, kehidupan di alam terbuka
3. Mulailah menggunakan produk perawatan anti-ageing, segera setelah pertanda penuaan muncul. Hal ini kerap terjadi lebih cepat untuk jenis kulit Anda (utamanya di area sekitar mata)
4. Hindari mandi dengan air panas, ada baiknya memakai bath oil
Perawatan Untuk kulit sensitif:
1. Hangatkan dulu produk perawatan di genggaman tangan sebelum Anda memakainya. Lakukan perawatan kulit tanpa menggosok
2. Sebaiknya gunakan jari jemari daripada katun wol, kain atau tisu.
3. Gunakan penyemprot air, jangan membasuh melalui keran air.
Untuk kulit separuh baya:
1. Pilihlah produk perawatan kulit anti-ageing tergantung pada kondisi kulit, kebutuhan dan musim.
2. Leher, mata, dan tangan Anda bisa mengurangi keindahan penampilan, jadi imbali mereka dengan perhatian yang sangat spesial.
3. Di setiap pagi yang menyulitkan, janganlah ragu buat menggunakan produk kecantikan yang sesuai, yang bisa melembutkan permukaan kulit.
4. Sering terkena sinar matahari langsung, bisa menyebabkan keriput dan noda di kulit.
Perawatan Untuk kulit berminyak
1. Lindungi dirimu dari sinar matahari langsung, dan penimbunan lemak di kulit wajah
2. Jangan mengeluarkan jerawat dan beruntusan di wajah secara swalayan
3. Lakukan perawatan peeling pada wajah sekali hingga tiga kali seminggu.
Baca Selengkapnya...
Labels: Tips Kesehatan
Kemiskinan dan Kebiasan Merokok
Wednesday, February 3, 2010
Data profil tembakau Indonesia tahun 2008 menunjukkan bahwa belanja rokok rumah tangga perokok di Indonesia menempati urutan nomor 2 (10,4%) setelah makanan pokok padi-padian (11,3%), sementara pengeluaran untuk daging, telur dan susu besarnya rata-rata (2%). Pengeluaran untuk rokok adalah lebih dari 5 kali lipat pengeluaran untuk makanan bergizi. Dilihat dari proporsi total pengeluaran bulanan, belanja rokok lebih dari 3 kali pengeluaran untuk pendidikan (3,2%) dan hampir 4 kali lipat pengeluaran untuk kesehatan (2,7%).
Penelitian Indonesian Forum Parliamentarians for Population and Development (IFPPD) melaporkan, 2 dari 3 ayah di Indonesia mengkonsumsi rokok. Ironisnya, lembaga ini memperkirakan, sebanyak 12 juta ayah dari 19 juta keluarga miskin adalah perokok.
Hasil Susenas tahun 1995, 2001, dan 2004 menunjukan proporsi pengeluaran rokok masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi terendah, lebih tinggi proporsinya dibandingkan dengan tingkat sosial ekonomi tertinggi. Tahun 1995 (6,1 : 4,9), tahun 2001 (9,1 : 7,5), dan tahun 2004 (10,9 : 9,7). Hasil penelitian Dell at all (2005) menyampaikan bahwa pria pada rumah tangga miskin dan tidak memiliki telpon dan warga dengan pendidikan lebih rendah cenderung merupakan perokok. Hal senada dilaporkan WHO bahwa jumlah perokok paling banyak berasal dari kalangan masyarakat miskin. Di Madras, India mayoritas perokok justru dari kelompok masyarakat buta huruf. Hasil riset lainnya membuktikan, kelompok masyarakat termiskin di Bangladesh menghabiskan 10 kali lipat penghasilannya untuk tembakau dibandingkan untuk kebutuhan pendidikan. Lalu penelitian di 3 provinsi Vietnam menemukan, perokok menghabiskan 3,6 kali lebih banyak untuk tembakau dibandingkan untuk pendidikan 2,5 kali lebih banyak untuk tembakau dibandingkan dengan pakaian, dan 1,9 kali lebih banyak untuk tembakau dibandingkan untuk biaya kesehatan (Majalah Ummi, Maret 2008). Sementara itu hasil penelitian dari Lawror et all (2003) menyampaikan bahwa pada kelompok kurang beruntung, merokok seringkali merupakan kenikmatan dan merupakan cara untuk mengatasi masalah, mengatasi kehidupan yang penuh tekanan. Hasil penelitian dari Jefferis Barbara et all (2004) menyampaikan bahwa individu dari latar belakang pekerja manual cenderung lebih banyak merokok dan cenderung tidak berhenti merokok dibandingkan pekerja non manual. Selain itu pekerja manual berisiko 28 persen merokok lebih besar dari pada pekerja profesional.
Masalah merokok merupakan masalah yang serius karena menyangkut berbagai aspek, yaitu: aspek kesehatan, aspek ekonomi, dan aspek sosial. Kebiasan merokok telah terbukti berhubungan dengan sedikitnya 25 jenis penyakit dari berbagai alat tubuh manusia, seperti kanker paru, bronkitis kronik, emfisema dan berbagai penyakit paru lainnya (Aditama, 1997). Rokok pada dasarnya merupakan pabrik bahan kimia yang berbahaya. Asap satu batang rokok mengandung 4.000 bahan kimia yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Levinthal, 1996). Peningkatan jumlah perokok akan sangat membahayakan status kesehatan masyarakat di masa depan. Status kesehatan yang menurun akibat dampak merokok dapat meningkatkan kemungkinan terkena berbagai jenis penyakit yang dapat menurunkan kualitas sumberdaya manusia Indonesia.
Selain itu, merokok akan menciptakan beban ganda yang harus ditanggung, karena merokok akan mengganggu kesehatan sehingga akan lebih banyak lagi biaya yang dikeluarkan untuk mengobati penyakitnya.
WHO memperkirakan tingkat kematian dunia akibat konsumsi rokok pada tahun 2030 akan mencapai 10 juta orang setiap tahunnya dan sekitar 70% terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia. Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional 2004 (Depkes, 2006) secara nasional dilaporkan bahwa penduduk 15 tahun ke atas yang mempunyai kebiasaan merokok tercatat sebanyak 34,44%, terdiri dari merokok setiap hari 28,35% dan kadang-kadang 6,09%. Proporsi perokok pemula usia 15-19 tahun proporsinya meningkat dari 58,9% pada tahun 2001 menjadi 63,9% pada tahun 2004. Proporsi perokok pemula usia 10-14 tahun meningkat dari 9,5% pada tahun 2001 menjadi 11,5% pada tahun 2004. Sedangkan proporsi perokok pemula usia 5-9 tahun meningkat dari 0,4% pada tahun 2001 menjadi 1,8% pada tahun 2004. Beberapa alasan mengapa seseorang merokok, antara lain ingin tahu atau coba-coba, ingin dianggap dewasa atau macho, pengaruh lingkungan atau tekanan kelompok, dan korban iklan.
Sementara itu, di Indonesia diperkirakan rakyat Indonesia setiap tahunnya membakar uang untuk merokok senilai Rp 120 triliun dan diperkirakan pada tahun 2008 ini pemerintah bisa meraup penghasilan cukai dari rokok sekitar Rp 44 triliun (Thabrany, 2008). Pada tahun 2005, Kosen melakukan estimasi penghitungan biaya akibat konsumsi tembakau sebesar Rp 167,1 triliun. Jumlah tersebut adalah sekitar 5,1 kali lipat lebih tinggi dari pemasukan cukai sebesar Rp 32,6 triliun pada tahun 2005. Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Masnah Sari menyampaikan bahwa dari segi pemasukan keuangan negara memang diakui pemasukan cukai rokok untuk keuangan negara menyumbang dana yang cukup besar. Tapi dibandingkan kerusakan moral dan kesehatan anak bangsa, bangsa ini akan lebih rugi jika terus membiarkan rakyat mengkonsumsi rokok (Pelita, Rabu 23 Januari 2008).
Kelompok masyarakat dengan sosial ekonomi rendah yang patut mendapat perhatian dalam bidang kesehatan asalah satunya adalah pekerja sektor informal. Saat ini proporsi pekerja sektor informal terus meningkat sebagai dampak dari globalisasi dan tidak cukup signifikannya penyerapan tenaga kerja formal (Akatiga, 2003). Kesempatan kerja di sektor formal semakin terbatas, harus diperebutkan oleh para pencari kerja yang setiap tahunnya semakin meningkat. Tekanan untuk memperebutkan lapangan kerja, diyakini akan semakin menguat dengan dikeluarkannya kebijakan kenaikan BBM. Dengan kondisi yang demikian, tenaga kerja yang tidak terserap oleh pasar kerja formal akan memasuki sektor informal (BPS, 2005).
Diperkirakan jumlah pekerja sektor informal besarnya sekitar 64 % dari angkatan kerja (Labour Force Situation in Indonesia, 2003). Keberadaan sektor informal memberikan kontribusi yang besar di bidang ekonomi khususnya dalam hal lapangan kerja. Sektor informal dapat berfungsi menjadi katup pengaman penyediaan lapangan kerja, terutama bagi mereka yang mempunyai keterampilan marjinal, dan membutuhkan sumber nafkah untuk tetap dapat bertahan hidup. Sektor informal dapat menjadi sumber pendapatan keluarga sehingga dapat mengurangi tingkat kemiskinan masyarakat (Committee on Poverty Reduction, 2006). Sementara itu pekerja sektor informal umumnya belum tersentuh oleh aturan dan belum banyak mendapat pembinaan dari pemerintah.
Salah satu pekerja sektor informal yang saat ini menjadi alternatif pilihan masyarakat dalam mencari nafkah adalah tukang ojek. Menjadi tukang ojek tidak memerlukan keahlian khusus dan cukup sederhana dalam prosesnya. Hanya bermodalkan keahlian mengendarai sepeda motor, maka seseorang sudah bisa menjadi tukang ojek dan dapat bekerja untuk menafkahi keluarganya. Oleh sebab itu tukang ojek menjadi salah satu alternatif baru pekerjaan jasa di bidang transportasi yang saat ini jumlahnya semakin banyak.
Hasil penelitian yang dilakukan Bambang Setiaji (2007) terhadap 108 tukang ojek menunjukkan bahwa 85 % tukang ojek mempunyai kebiasaan merokok. Angka ini 20 % lebih tinggi dibanding prevalensi merokok laki-laki dewasa nasional tahun 2004 yaitu sebesar 63,1% (Susenas, 2004). Rata-rata jumlah rokok yang dihisap tukang ojek adalah 11 batang rokok perhari, dengan rata-rata pengeluaran untuk rokok perhari mencapai Rp 7.500,-. Sebagian besar tukang ojek yaitu sebesar 85% pernah mengalami kesulitan uang untuk berobat. Mereka mencari uang untuk berobat dengan cara meminjam (39%), meminta bantuan saudaranya (37%), menjual barang/harta (17%), dan minta kartu SKTM (7%). Hampir semua tukang ojek yaitu 97% merasa khawatir bila suatu saat mereka sakit. Menurut sebagian besar mereka (73%) kekhawatiran yang timbul adalah tidak punya uang dan hilangnya kesempatan mencari nafkah. Sebagian besar tukang ojek (86%) mengatakan bila sakit akan mengganggu pekerjaan sehari-harinya, kurang lebih selama 4 hari. Perkiraan rata-rata kehilangan pendapatan selama sakit kurang lebih Rp 83.000,-
Bagi sebagian besar masyarakat dengan sosial ekonomi rendah, pengeluaran biaya rokok sebenarnya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga lainnya seperti memenuhi kebutuhan gizi, memenuhi biaya pendidikan dan memenuhi biaya kesehatan anggota keluarganya.
Seyogyanya kebijakan penanggulangan masalah merokok dapat lebih diprioritaskan kepada kelompok ini. (Semoga)
Penulis: Bambang Setiaji
Baca Selengkapnya...
Labels: Artikel

